Standard Post

Ketua FPKB: Mudah Mengkritik Bukan Berarti Mudah Direkrut Jadi Teroris


JAKARTA, PKBNews - ORANG yang mudah mengkritik dan berlaku nyinyir ke pemerintah tak berarti mudah direkrut menjadi teroris. Pasalnya, dalam setiap Pemilihan Umum (Pemilu) pasti menghasilkan menang dan kalah. Dan, biasanya ada yang berseberangan dengan pemeritah.

"Stigma yang berseberangan dengan pemerintah lebih mudah direkrut sebagai teroris berbahaya bagi sistem demokrasi," kata Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Cucun Ahmad Syamsurijal, Senin (5/4/2021).

Anggota Komisi III DPR RI berkata, kritik yang dilontarkan kepada pemerintah beragam di media sosial. Namun itu tidak membuktikan seseorang yang kritis ke pemerintah berarti mudah direkrut menjadi teroris.

"Dalam demokrasi, berbagai ekspresi sikap kritis kepada pemerintah, apalagi yang ditunjukkan di media sosial, begitu beragam. Dari kritik membangun hingga sikap nyinyir. Namun tidak berarti mereka mudah direkrut sebagai teroris," kata Cucun.

Kata Cucun, jika stigma pembenci pemerintah akan mudah direkrut jadi teroris terus berkembang, itu bisa mematikan daya kritis masyarakat. Dia beralasan masyarakat akan menjadi takut dicap sebagai potential terrorist ketika bersikap kritis ke pemerintah.

"Stigma pembenci pemerintah akan mudah direkrut jadi teroris, jika berkembang, akan mematikan daya kritis masyarakat karena mereka takut dicap sebagai potential terrorist. Padahal demokrasi kita membutuhkan sikap kritis tersebut," katanya.

Cucun mengaku lebih sepakat bahwa pandangan keagamaan radikal lebih dominan menciptakan bibit terorisme. Apalagi, kata dia saat ini perekrut tersebut bergerak melalui platform media sosial dengan menyerang para generasi milenial.

"Apalagi saat ini ajaran tersebut kian mudah merekrut pengikut seiring banyaknya kampanye di berbagai platform media sosial yang menyasar generasi milenial," katanya.

Sebelumnya, mantan anggota jaringan terorisme Jamaah Islamiyah, Nasir Abas, menyatakan orang-orang yang sudah mempunyai rasa benci terhadap pemerintah cenderung lebih mudah direkrut menjadi teroris ketimbang mereka yang masih nol. Sebab, sikap dan ideologi jaringan teroris selama ini biasanya memang memusuhi pemerintah atau siapa pun yang berkuasa.

"Kalau saya akan merekrut orang untuk jadi teroris, saya akan memilih mereka yang sudah punya rasa kebencian kepada pemerintah ketimbang yang masih nol. Ibaratnya, tinggal menambah pupuk sedikit, jadilah," kata mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiah untuk wilayah Filipina, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.